KEKUATAN BETON

Beton digunakan pada pekerjaan konstruksi misalnya pekerjaan struktur bangunan seperti pondasi, kolom dan balok, struktur jembatan seperti pile, pondasi, pier (tiang jembatan), prestress beam (balok jembatan), struktur pelabuhan seperti pile, jetty, fasilitas pelabuhan, pekerjaan arsitektur, pekerjaan plumbing, dan hampir semua yang berhubungan dengan tempat tinggal, tempat beraktivitas, dan fungsi lainnya.

Teknologi beton menurut sejarah di laman wikipedia material serupa beton sudah digunakan 6.500 SM (Sebelum Masehi), pada masa 700 SM mulai digunakan cairan kapur pada campuran semen.

KEKUATAN BETON

kualitas beton

Material-material yang menyusun beton menurut Pedoman Pekerjaan Beton untuk Jalan dan Jembatan yang dipersiapkan oleh panita Teknik Standarisasi Bidang Konstruksi dan Bangunan adalah

  1. Semen
    Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton harus jenis semen Portland yang memenuhi standar SNI 15-2049-1994
    Dalam satu campuran hanya satu merk semen Portland yang boleh digunakan bilamana dalam satu proyek digunakan lebih dari satu merk semen, maka harus diajukan kembali rancangan campuran beton sesuai dengan merk semen yang digunakan
  2. Air
    Air yang memenuhi syarat untuk pencampuran, perawatan dan pemakaian lainnya harus bersih dan harus memenuhi syarat SNI 03-0624-1991. Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan
    Proporsi sedikit air pada beton akan memberikan kekuatan yang tinggi pada Kekuatan Beton dan daya kerjanya berkurang.
    Demikian juga sebaliknya proporsi air yang besar akan memberikan kemudahan pada waktu pelaksanaan pengecoran, tetapi Kekuatan Beton berkurang.
    Beton untuk konstruksi gedung memilki rasio air semen berkisar 0.45 – 0.65.
  3. Agregat
    Dalam SNI T-15-1991-03, agregat di definiskan sebagai material granular, misalnya pasir, kerikil, batu pecah dan kerak tungku besi yang dipakai besama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk beton semen hidrolik atau adukan.
    Berdasarkan ukurannya agregat ini dapat dibedakan menjadi :

    1. Agregat halus diameter antara 0 – 5 mm, disebut pasir, yang dapat dibedakan menjadi
      1. pasir halus diameter 0 – 1 mm
      2. pasir kasar diameter 1 – 5 mm
    2. Agregat kasar diameter > 5 mm, biasanya berukuran antara 5 s/d 40 mm, disebut kerikil,
      agregat kasar merupakan hasil disintegrasi alami batuan atau hasil industri (stone crusher)
  4. Additive (tambahan)
    bahan yang ditambahkan ke dalam campuran beton pada waktu atau selama proses pencampuran berlangsung, untuk meningkat Kekuatan Beton ,memperlambat proses perkerasan, mempercepat proses perkerasan, dan sebagainya.

Salah satu cara untuk mengendalikan Kekuatan Beton adalah dengan menguji sampel atau benda uji.
Ada 2 jenis pengujian yaitu

  1. Steady loading, pengujian terhadap pembebanan
  2. Controlled Strain rate, pengujian terhadap regangan

Nilai uji yang diperoleh dari setiap benda uji akan berbeda, karena beton merupakan material heterogen, yang kekuatannya dipengaruhi oleh proporsi campuran, bentuk dan ukuran, kecepatan pembebanan dan oleh kondisi lingkungan pada waktu pengujian.

Oleh karena itu metoda statistik diperlukan untuk menentukan kekuatan tekan karakteristik beton fc´, yang didefiniskan sebagai kekuatan tekan beton yang dilampaui oleh paling sedikit 95% dari jumlah benda uji.
Nilai fc´ adalah kekuatan tekan benda uji silinder berdiameter 150 mm dan panjang 300 mm sebagaimana ditetapkan dalam SNI T-15-1991, kekuatan standarnya didasarkan atas kekuatan beton umur 28 hari.