LUBANG RESAPAN BIOPORI

Lubang Resapan Biopori istilah yang dikenal karena istilah mudah diingat dan diucapkan, sebelumnya dikenal dengan istilah Mulsa Vertikal.

Pemamfaatan sisa tanaman dalam usaha konservasi air tanah dengan meresapkan air hujan, kembali ke dalam tanah, untuk mengganti air tanah yang dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari.
Bahkan lebih dari proses penyerapan air hujan ke dalam tanah saja, efektivitas mulsa vertikal juga bermamfaat bagi konservasi tanah pada area pertanian yang kering, dengan memamfaatkan pembusukan sampah organik untuk memperoleh unsur hara tanah.

LUBANG RESAPAN BIOPORI

Lubang Resapan Biopori mampu meningkatkan daya resap tanah terhadap air hujan, dengan demikian genangan air (waterlogging) semakin kecil.
Peresapan air hujan, tidak hanya terjadi pada dasar lubang, tetapi juga pada sisi dinding lubang biopori akan meresap air hujan
Pada sisi dinding Lubang Resapan Biopori akan membentuk lubang-lubang kecil yang mampu menyerap air dan sebagai wadah penampung air hujan sementara,.

Lubang Resapan Biopori berupa konstruksi tanah yang digali sesuai dengan dimensinya, dan di dalam galian tanah tersebut diisi dengan sampah organik yang dapat membusuk, dimensi lubang resapan biopori berdiameter antara 10 cm – 25 cm kedalaman 100 cm (tidak melebihi kedalaman muka air tanah), menurut defenisi lubang pori PerMen Lingkungan Hidup No 12 th 2009.

Mamfaat lubang resapan biopori antara lain untuk

  1. memperluas bidang penyerapan air (dengan demikian meningkatkan daya resap/ tampung air hujan atau genangan akibat air hujan),
    Luas permukaan biopori yang besar disebabkan karena, lubang biopori tidak memiliki dinding untuk penahan tanahnya (galian tanah berfungsi sebagai dinding resapan).
  2. Resapan biopori memamfaatkan sampah organik (jenis sampah yang dapat membusuk atau terurai), sehingga masalah limbah organik dapat teratasi dan hasil pembusukan sampah organik dapat dimamfaatkan untuk tanaman kembali.
  3. Hasil pembusukan sampah organik akan memberikan unsur hara kepada tanah yang bermamfaat untuk konservasi kesuburan tanah, pekembang biakan organisme dan mikroorganisme didalam tanah.
  4. Biopori tidak memerlukan lahan yang luas untuk dapat meresapkan air hujan kedalam tanah karena diameter lubang resapan yang kecil, kegiatan pemamfaatan air hujan ini sangat penting bagi konservasi air tanah yang digunakan untuk kebutuhan manusia.

Untuk diameter biopori 10 cm dan kedalaman 100 cm, maka luas permukaan penyerpaan air pada dasar dan dinding permukaan tanah ex galian, besarnya resapan adalah 0.314 m2, luas permukaan penyerapan ini lebih besar dibanding sumur dengan dinding perkerasan beton 0.00785 m2.

Biopori mengubah sampah organik menjadi kompos. Pengomposan sampah organik mengurangi aktivitas pembakaran sampah.
Proses pembusukan sampah organik (dedaunan, rating pohon, sisa makanan seperti sayur, tulang, kulit buah, nasi) menghasilkan pupuk kompos yang dapat dimamfaatkan untuk tanaman.

Selain itu biopori juga dapat meningkatkan aktivitas organisme dan mikroorganisme tanah sehingga meningkatkan kesehatan tanah dan perakaran tumbuhan sekitar.

Biopori tidak dapat mengatasi terjangan banjir, tetapi sangat efektif untuk mengatasi genangan air di permukaan tanah.

Biopori merupakan salah satu kontruksi yang diwajibkan kepada pemilik bangunan, persyaratan yang di atur dalam PerMen Lingkungan Hidup No 12 th 2009