SUMUR RESAPAN

Sebagai salah satu usaha melestarikan air tanah, kita membuat Sumur Resapan yang berfungsi sebagai tempat menampung dan menyimpan curahan air hujan, sehingga dapat menambah kandungan air tanah.

Sumur Resapan hendaknya diatur penempatannya, sejauh mungkin dari resapan septik tank dan hanya boleh diisi oleh air hujan yang langsung atau melalui atap atau talang bangunan.

SUMUR RESAPAN

Berdasarkan jenisnya Sumur Resapan dibedakan atas 2 macam yaitu

  1. Sumur Resapan biasa
    Berdasarkan surat keputusan Gubernur DKI Jakarta no 115 th 2001, sumur resapan dapat ditempatkan pada areal perkarangan, pada daerah yang tidak mudah longsor dan/atau terjal, dan tidak dibuat pada lokasi timbunan sampah dan/atau tanah yang mengandung bahan pencemar.Menurut peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup no 12 th 2009 dan peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakart No 68 th 2005.
    untuk menambah cadangan air tanah dan mengurangi limpasan air hujan dapat menggunakan sumur resapan.
    Bangunan sumur resapan dapat berupa beton tidak bertulang tebal 10 cm.
  2. Sumur Resapan Tirta Sakti

 

Perbedaan mendasar antara Sumur Resapan yang umumnya dikenal (SRB = Sumur Resapan Biasa) dengan SRTS (Sumur Resapan Tirta Sakti) terletak pada optimasi dan pendayagunaannya serta mamfaat yang diperolehnya.

Pada SRB yang dibuat secara benar, sumur hanya berfungsi pada musim penghujan dimana pasokan air diperoleh dari curah hujan yang kemudian dialirkan ke lapisan tidak kedap air melalui Sumur Resapan

Pada musim kemarau di mana tidak ada pasokan air hujan, Sumur Resapan yang tadinya terisi air akan kembali kosong, disebabkan karena penguapan dan/atau pemompaan sumur bor, sehingga akan mengakibatkan terjadinya rongga-rongga di dalam lapisan tidak kedap air dan berpotensi untuk diisi oleh air laut (intrusi atau kemungkinan terjadinya penurunan struktur tanah yang disebabkan oleh berkurangnya rongga-rongga di dalam tanah akibat tertekan oleh beban diatasnya, baik yang berasal dari bangunan ataupun kendaraan.

Pada SRTS di kala musim hujan, sebagaimana halnya SRB pasokan air diperoleh dari air hujan. Mengingat SRTS mampu mengalirkan air hujan pada beberapa lapisan tanah dibawahnya, baik pada lapisan tidak kedap air maupun lapisan akifer (aquifer), maka permukaan tanah terhindar dari genangan air yang diakibatkan oleh jenuhnya tanah permukaan dan/atau perkerasan .
Pada musim kemarau dimana pasokan air ke Sumur Resapan berkurang / tidak ada, maka untuk mengganti pasokan air hujan digunakan air limbah rumah tangga (limbah domestik) yang sudah disaring (di filter).
Proses penyaringan ini menggunakan kotak TIrta Sakti, sebagai bagian intregal dari SRTS.

Dengan demikian SRTS dapat berfungsi sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau, sehingga rongga-rongga dalam lapisan tanah yang tidak kedap air dan lapisan akifer selalu terisi pengganti air tanah (air tawar) yang hilang akibat pemompaan dan / atau penguapan.

sumber : Panduan sistem bangnunan tinggi